VIRUS CORONA BUKAN VIRUS DENGUE (oleh dr. Handrawan Nadesul)

Jenis virus itu ribuan. Masing-masing jenis virus punya tabiatnya sendiri. Berbeda jenisnya, berbeda pula cara penularannya. Berbeda pula pintu masuknya ke dalam tubuh. Ada yang mengalami siklus kehidupannya di inang lain sebelum menularkan ke manusia, misal virus dengue, ada yang ditelan lewat pencernaan misalnya virus polio, ada yang lewat udara (air borne) misalnya virus polio, cacar, dan ada juga yg lewat hubungan seks yaitu virus HIV. 

Virus corona menular lewat percikan ludah (droplet infection). Artinya, virus keluar dari tubuh penderita (saluran napas) lewat percikan ludah sewaktu batuk, bersin, dan bercakap-cakap. Ini serupa dg penularan basil TBC. 

Jarak tularnya tentu berbeda dengan penularan virus yang beterbangan jauh di udara (air borne), virus corona tak lebih dari 2 meter dari mulut pengidapnya jarak tularnya. Jadi itu berarti kita baru tertular virus corona apabila berada sejauh 2 meter dari pengidap corona. Itu pun kalau dia batuk, bersin atau kita bercakap-cakap dengan jarak itu. 

Beberapa jam setelah virus keluar dari mulut dan hidung pengidap, virus akan mati. Mereka yg berada jauh dari pengidap corona, kendati pengidapnya batuk atau bersin, virusnya tidak menjangkau mereka.

Percikan ludah dari pengidap akan melekat di dekat pengidap batuk dan bersin, mungkin di lantai, di kursi tempat pengidap duduk, dan semua peralatan dan benda di sekitar pengidap. Itu alasan mengapa jemari kita selama berada di tempat publik sebaiknya tidak digunakan untuk memegang wajah.

Mengapa wajah? Karena hidung, mata, dan mulut berada di wajah. Bila jemari yang sudah tercemar virus corona yang kita tidak tahu entah dari mana tercemar di tempat publik, lalu menyentuh wajah, virus akan menjalar dengan mudah ke hidung, mata, atau mulut. 

Termasuk di dalam kabin pesawat. Kita tidak tahu apakah di dalam pesawat sedang ada pengidap virus corona atau tidak. Dalam masa inkubasi atau masa tunas, pengidap virus belum memperlihatkan gejala, namun di saluran pernapasannya sudah ada virus corona yang setiap saat siap tersemprotkan lewat batuk dan bersin, atau bercakap-cakap.

Virus yang melekat pada benda atau peralatan di sekitar pengidap akan segera mati juga dalam hitungan jam. Virus bertahan lebih lama, mungkin 3-4 jam bila berada di lendir, liur, atau cairan, dan bukan di benda mati. 

Lalu apa artinya ini? Hanya apabila jemari kita menyentuh semua barang yang berada di sekitar pengidap dan virusnya belum mati saja, dan kita menyentuh wajah, memasukkan jari ke hidung, mengucek mata, maka kita baru akan tertular.

Lalu bagaimana orang-orang yang berada jauh dari pengidap virus? Sudah barang tentu tidak mungkin tertular. Jangankan orang yg berada se-kota, yang se-tetangga dengan pengidap corona pun, kecil kemungkinan tertular. Kasus positif corona sudah pasti tidak berkeliaran, atau hanya mungkin berkeliaran kalau lolos dari deteksi, atau tidak mau berobat walau flu dan sesak napas. Tapi ini kecil kemungkinan. 

Jadi, yang dalam tubuhnya membawa virus corona, adalah mereka yang mengidap tetapi belum kelihatan sakit. Kita tahu secara epidemiologis, di antara satu pengidap virus ada lebih 10 orang yang berpotensi tertular. Lalu dari yang sepuluh sudah tertular masing-masing menulari lagi 10 lainnya sehingga menjadi 100 yg tertular. 

Jahatnya virus corona adalah karena daya tularnya yang tinggi dibanding sekerabat corona lainnya. Namun untungnya, angka kematian corona virus hanya 2 persen saja dibanding SARS yg bisa 15 persen.

Jadi sesungguhnya terhadap corona lebih penting upaya pencegahan bagi masyarakat. Berjaga-jaga barangkali ada pengidap virus berkeliaran di tempat publik. Dan itu tidak banyak. Lebih penting tidak ke tempat publik kalau tidak perlu. Pakai masker hanya kalau ke tempat publik di wilayah yang sudah ada kasusnya. Kalau dilaporkan sudah ada 2 kasus positif di Depok, artinya wilayah itu yang kemungkinan sudah ada penularan ke sejumlah orang, seturut perhitungan epidemiologis, dibanding wilayah lain yang belum ada kasus. 

Perlu ditelusuri pula, ke mana saja tamu Jepang penular 2 kasus itu alibi jejaknya, selain 2 kasus ini juga sudah singgah ke mana dan berada di mana setelah bertemu tamu Jepang yang sakit itu. Ditelusuri pula di RS Depok tempat 2 kasus pernah berobat sudah bertemu dengan siapa saja, suster dan dokter siapa, berada di ruangan mana. Itu semua untuk melakukan surveilance supaya jejak-jejak pengidap bisa dibersihkan.

Ihwal memakai masker sendiri, sesungguhnya hanya bagi yg sedang demam, flu, batuk pilek saja yang perlu atau kita yang berada di dekat wilayah yang sudah ada kasusnya. Tetangga 2 kasus itu pun sebetulnya belum tentu berisiko tertular karena virusnya sudah tidak ada, apalagi keduanya sudah masuk RS Soelianti Soeroso. 

Masyarakat perlu dikendurkan rasa takut apalagi kepanikannya. Hari ini supermarket diserbu, masker diserbu, sungguh sangat tidak masuk akal sehat medis.

Karena kurang memahami bagaimana virus menular, banyak sikap tingkah laku dan ulah seperti bukan orang medis. Termasuk otoritas Depok yg melakukan fogging seolah virus corona dianggap sama dengan dengue. Fogging kan untuk nyamuk, bukan untuk virus. Virus mana pun tidak mati dengan fogging, melainkan dengan kekebalan tubuh, atau dengan obat antivirus kalau sudah tersedia.

Anjuran konsumsi jahe, kunyit, dan ramuan herbal lainnya juga viral sekarang, sehingga menjadi bias, seolah corona bisa dilawan dengan jahe, kunyit, dan sejenisnya. Tidak mungkin, karena tidak masuk akal medis. Bahwa jahe dan kunyit (baca curcumin) mampu meningkatkan daya tahan tubuh memang benar. Cara kita menyikapi musim corona hanya dapat dengan cara melakukan peningkatan kekebalan tubuh sebagai upaya pencegahan, namun bukan untuk pengobatan. 

Hampir pasti corona tidak bisa dilawan dengan jahe dan kunyit, hanya karena zat berkhasiat dalam jahe dan kunyit membuat tubuh lebih kebal sehingga tidak mudah tertular. Juga tidak masuk akal orang di luar Depok tempat domisili 2 kasus positif bermukim semua bisa tertular. Bahkan tetangganya pun tidak perlu bermasker. 

Lucu kalau semua orang Indonesia di semua kota latah memakai masker sehingga harganya puluhan kali lipat, bahkan ketika sedang di dalam rumah sendiri pun tetap memakai masker, sungguh tidak nalar.   
                                    
Salam sehat. 
Dr. HANDRAWAN NADESUL


Bagikan artikel ini