Penanggulangan Dampak Banjir di Kabupaten Tangerang

TIGARAKSA -- Pemerintah Kabupaten Tangerang terus berupaya menanggulangi dampak musibah banjir yang terjadi di wilayah Kabupaten Tangerang pada awal tahun 2020. 

Kepala BPBD Kabupaten Tangerang, Bambang Sapto mengatakan, Banjir yang menerjang sejumlah wilayah di Kabupaten Tangerang tersebut terjadi akibat hujan yang tidak kunjung berhenti sejak 31 Desember 2019 kemarin hingga awal tahun 2020, sehingga sejumlah sungai meluap dan berdampak banjir di sebagian wilayah Kabupaten Tangerang.

"Pada saat kejadian banjir, tim dari Pemerintah Kab. Tangerang (BPBD, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, serta OPD lainnya dan Kecamatan) langsung sigap merespon cepat untuk menangani musibah banjir tersebut, dan segera melakukan reaksi cepat tanggap sesuai prosedur," Kata Bambang.

Bambang mengungkapkan bahwa potensi wilayah Kabupaten Tangerang yang terkena banjir yang diakibatkan luapan beberapa sungai yang melintasi wilayah Kabupaten Tangerang.

Pertama Sungai Cisadane menggenangi (5 Kecamatan): Kecamatan Curug, Legok, Sepatan, Pakuhaji, dan Teluknaga; kedua
Sungai Cirarab menggenangi (4 Kecamatan): Kecamatan Legok, Curug, Cikupa dan Pasar Kemis; ketiga Sungai Cimanceuri menggenangi (9 Kecamatan): Kec. Legok, Tigaraksa, Cikupa, Balaraja, Sukadiri, Jambe, Rajeg, Pagedangan dan Kronjo; ke empat Sungai Cidurian menggenangi (4 Kecamatan): Kec Cisoka, Jayanti, Kresek, Kronjo; dan kelima Sungai Kalisabi Menggenangi ( 1 Kecamatan) : Kec. Kelapa Dua.

"Banjir yang terjadi di Kabupaten Tangerang hanya 12 persen dari total keseluruhan wilayah Kabupaten Tangerang, yaitu di Kecamatan Teluknaga, Kelapa Dua, Kresek, Sepatan Timur, Solear, Pakuhaji, Curug, Pagedangan, Cisoka, Pasar Kemis, Jayanti, Tigaraksa, Jambe, dan Legok, dan 5,6 persen penduduk di Kabupaten Tangerang yang terdampak," ungkap Bambang.

Dampak dari banjir yang terjadi pada awal tahun menyebabkan rusaknya lahan pertanian dan tambak, daerah pesisir dan pemukiman nelayan, pemukiman penduduk, industri dan pergudangan, fasilitas umum seperti sekolah, jalan, dan fasilitas umum lain nya serta kesehatan masyarakat.

Bupati Tangerang A. Zaki Iskandar mengatakan, bahwa bencana banjir yang terjadi saat ini di wilayah Jabodetabek mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Untuk itu perlu dilakukan koordinasi penanganan secara terpadu antara wilayah Jabodetabek dalam proses perencanaan pemanfaatan dan pengendalian tata ruang.

"Kedepan kita perlu membahas bersama dengan Pemerintah Pusat dan daerah Jabodetabek untuk mengatasi persoalan banjir ini karena supaya ada jalan bagi semua daerah yang terdampak," Kata Zaki.

Menurutnya, curah hujan yang tinggi dan kiriman air dari hulu merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya banjir di wilayah Kabupaten Tangerang serta berkurangnya daerah resapan air dan degradasi lingkungan, penyempitan serta pendangkalan sungai akibat sedimentasi lumpur, sampah dan belum tertatanya irigasi atau normalisasi sungai.

Untuk bencana banjir saat ini yang menimpa Kabupaten Tangerang, Pemerintah tidak menaikkan status tanggap darurat bencana, karena yang terdampak banjir hanya 12 persen dari luas wilayah. Pemerintah Kabupaten Tangerang bisa menyelesaikan permasalahan banjir.

Zaki menambahkan, penanganan saat banjir yang dilakukan oleh Pemerintah dalam hal ini BPBD dan dinas lainnya adalah mendirikan tenda darurat, mendirikan posko kesehatan, dapur umum, dan posko pengungsian, pendistribusian logistik seperti makanan cepat saji, obat-obatan, serta logistik lainnya dan pemerintah Kab. Tangerang terus melakukan koordinasi dengan BPBD Provinsi, TNI, Polri serta stakeholder lainnya pada saat bencana maupun pasca bencana. (Herly/Diskominfo)


Bagikan artikel ini