Pengembangan Ekonomi Kreatif Berbasis Kearifan Lokal di Bumi Tangerang

Pengembangan Ekonomi Kreatif Berbasis Kearifan Lokal

di Bumi Tangerang

Antara Peluang dan Tantangan

 

Oleh: Drs. Edi Kusmaya, MPd

(Kasi Kelembagaan Pemdes Kab. Tangerang)

Secara matematis, kemajuan pembangunan infrastruktur Kabupaten Tangerang tidak diragukan lagi. Jalan yang tadinya becek, sekarang sudah jrenk. Gang-gang kecil tempo doeleo susah dilewati motor, kini sudah rapi tertata vaping block. Gedung pelayanan publik terus digenjot. Fasilitas pengobatan, sekolah lengkap dengan Sanisek dan perpustakaan dapat dinikmati masyarakat serta  banyak lagi prestasi yang telah diraih.

Apalagi pembangunan fisik yang dilakukan investor seperti pabrik, perumahan, ruko, pergudangan sampai mall bisa dibilang wah ! Walaupun harus menggusur ratusan  hektar sawah produktif, kebun bambu dan rawa. Tak apalah demi kemajuan kita semua …

Namun apakah semua masyarakat Tangerang sudah merasa puas ? Jawabannya,  BELUM. Masih relatif banyak hal yang harus dibenahi. Tidak sedikit permasalahan yang perlu solusi. Sebagai wilayah penyangga Ibu Kota, 1001 tantangan ada di depan mata. Salah satu hal kecil tampak sepele serta belum dikembangkan secara optimal, adalah  pengembangan ekonomi kerakyatan yang berbasis kearifan lokal.

Icon

Bila kita mengenal suatu daearah, salah satu yang melekat dalam ingatan, adalah berbagai hal yang menjadi ciri khasnya. Kota Malang misalnya, terkenal dengan buah apel berikut varian produk turunannya. Yogyakarta, tak bisa lepas dari panganan Gudeg-nya. Begitu juga pusat-pusat kerajinan sekaligus wisata belanja sepanjang jalan Malaiboro termasuk budaya lain yang syarat dengan kearifan lokalnya.

Jawa Barat, ada kota Garut - jaket kulit dan panganan dodol, sudah tak asing bagi masyarakat parahiangan. Bahkan khas kuliner kota Intan itu, sudah merambah ke berbagai pelosok Tanah Air. Banyak lagi kabupaten kota di negeri ini, telah mampu meningkatkan ekonomi rakyat melalui pengembangan industri kreatif yang berakar pada budya kearifan lokal.

Lalu kita bertanya, “Apakah produk kreatif khas Kabupaten Tangerang yang berbasis pada budaya kearifan lokal-nya, sudah menjadi kebanggaan warganya?” lagi-lagi jawabnya BELUM.  

“Topi Bambu” misalnya … yang menjadi salah satu lambang dalam logo Pemda Kabupaten Tangerang. Apakah sudah menjadi andalan?  Begitu juga makanan, hingga kini belum ada yang benar-benar menjadi primadona, setidaknya untuk oleh-oleh. Di bidang kesenian lokal, juga belum mendapat tempat di hati masyarakatnya. Cokek, salah satunya. Walaupun pemerintah daerah sudah mencoba memodifikasi menjadi Tari Cukin, namun gregetnya belum terasa. Belum setenar kesenian daerah lain, seperti Tari Saman Aceh, Jaipongan, Reog Ponorogo dll.

Bagaimana dengan perkembangan kerajinan sandal dan sepatu? Ini juga belum bisa dijadikan brend, berbeda dengan Kelom Geulis khas Tasikmalaya, atau sepatu Cibaduyut Bandung - yang memang berkembang dari akar budaya lokal. Karena soal kerajinan sepatu sport terutama di Desa Bojong Kecamatan Cikupa. Persoalan utamanya masih disekitar penggunaan merek tertentu. Sehingga terus mengalami persoalan dengan hak cipta dagang, dan berimplikasi dengan ranah hukum.

 

Etalase

Gerbang dunia ada di Tangerang (Bandara Soekarno Hatta). Sebelum tamu mancanegara mengenal budaya Jogjakarta, sebelum mencicipi makanan khas kota Bandung dan belanja celaja jeans Cihampelas atau sebelum belanja kerajinan bambu Tasikmalaya… alangkah bagusnya menikmati tarian, makanan dan cindera mata Tangerang terlebih dahulu.

 

Pusat-pusat perdagangan berskala besar juga ada di sini. Event bertarap nasional bahkan kaliber dunia tak jarang diselenggarakan di wilayah ini. Tinggal bagaimana mengolah, mengembangkan, mengemas dan menyajikan semua produk khas Kabupaten Tangerang, berupa seni budaya, makanan dan kerajinan dikembangkan menjadi industri yang laku dijual.

 Upaya ke arah itu masih harus ditingkatkan lagi. Perlu gebrakan yang lebih berani. Sebab untuk membangun industri kreatif yang berbasis pada kearifan budaya lokal tidak lah mudah. Perlu komitmen lebih dari berbagai pihak untuk menggali dari dari bumi Tangerang selain mengembangkan yang sudah ada. Diperlukan suatu gerakan, yang melibatkan semua komponen, termasuk peran serta budayawan, seniman, pelaku industri kecil dan menengah, kepedulian pengusaha kuat dan tentunya regulasi dinas instansi terkait.

Kini saatnya bagaimana topi bambu yang pernah jaya, ke depan bisa menjadi kebanggan masyarakat Tangerang. Caranya, bisa melalui festival, lomba disain serta didukung oleh regulasi kreatif. Sandal dan sepatu pengrajin tidak lagi menggunakan merek tertentu, tetapi mampu melahirkan logo dan nama sendiri yang dibarengi kualitas barang. Tarian khas Cokek, bisa mendunia. Makanan serta kerajian Khas Tangerang terus digali dan dikembangkan. Batik Kabupaten Tangerang mampu bersaing di pasaran nasional atau dunia.

Sebatas Saran

Potensi sudah ada. Tinggal pengembangannya lebih inovatif lagi. Topi bambu misalnya. Menurut sumber jumlah para pengrajin topi masih relative banyak. Secara berkala produk asli Urang Benteng ini sebagian besar dibuat topi pramuka, dikirim ke Surabaya dan Makasar. Bukti peluang masih terbuka lebar. Persoalan selanjutnya, bagaimana agar kembali menjadi andalan Tangerang. Salah satu solusi, perlu sentuhan seni, misalkan dibuat berbagai macam topi ditambah lukisan atau bikin versi topi Joro lengkap dengan bulu ayamnya. Kalau perlu kita datangkan jago-jago kerajinan dari Rajapolah Tasikmalaya Jawa Barat.

Simbol-simbol khas Kabupaten Tangerang pun sebenarnya bisa menjadi bahan dasar karya-karya kreatif. Salah satunya dalam bentuk disain gambar dalam media kaos oblong (T-shirt). Mengadopsi Dagadunya anak Yogyakarta, atau khas Bali. Misalnya memvisualisasikan nilai-nilai heroik warga Tangerang ketika melawan penjajah. Dapat pula mendisain Ayam Wareng, tokoh-tokoh kharismatik seperti Aria Wangsakara dll. Tentunya dalam versi anak muda, karena pasar utama adalah kelompok mereka. Gedung dan mesjid bersejarah semuanya bisa digali lagi.

Kreatifitas lainnya, kerajinan yang tersebar di wilayah dinventalisir kemudian diadakan kajian dari aspek sosio-kulturalnya. Libatkan kelompok dan konunitas tertentu untuk memberikan gagasan, kemudian divisualisasikan dalam berbagai karya. Termasuk kreasi limbah industri yang tak terbilang banyaknya.

 

Paket Wisata

Pengembangan produk lokal berbasis ekonomi kerakyatan, erat kaitannya dengan industri pariwisata. Dua bidang saling menunjang, satu sama lain. Barang souvenir lebih cenderung memenuhi rasa estetika. Karenanya  karya seni, biasanya mempunyai nilai tinggi, pasar potensinya dari kalangan menengah ke atas. Walaupun demikian, kita tetap bisa memberikan alternatif pilihan kepada kelompok masyarakat menengah ke bawah, dengan harga terjangkau. Secara psikologi wisatawan baik lokal terlebih macanegara, ketika melakukan aktivitas wisata cenderung menggunakan uangnya untuk memenuhi hasrat kepuasan batinnya, daripada pemenuhan kebutuhan secara ekonomi. Hal ini merupakan peluang untuk memasarkan semua jenis produk masyarakat.

Jadi sektor wisata pun harus terus ditingkatkan. Potensi wisata alam pantura, Solear, danau Biru Cisoka dan tempat lainnya perlu pembenahan. Barangkali juga perlu dirintis, disain kampung wisata bambu seperti beberapa daerah telah mengembangkannya. Situs warisan sejarah Islam, etnis Tiong Hoa dan cagar budaya lainnya lebih ditata. Festival budaya dan seni, termasuk partisipasi sastrawan dan penulis terus dipacu. Kajian penggalian akar budaya Tangerang, melibatkan kalangan perguruan tinggi dan peneliti, sehingga mutiara yang mungkin masih ada dalam perut bumi Tangerang, bisa di eksplorasi lebih dalam lagi melalui berbagai seminar atau work shop.

Edukasi kepada masyarakat melalui berbagai media, perlu terus digalakan. Sanggar seni dan kelompok budayawan, sastrawan secara periodik diajak bicara dan berkarya. Komunitas ini biasanya memiliki idealism dan fanatisme sekaligus memiliki ide brilian, walaupun kadang mereka kontroversi.

Dalam jangka panjang, sebaiknya peserta didik dari mulai PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) hingga perguruan tinggi yang ada di Kabupaten Tangerang, diberikan pemahaman tentang kearifan budaya lokal. Supaya mereka mengetahui sekaligus mencitai serta mengapresiasi wilayah dimana tinggal.

Dengan motto one spirit, one team dan one goal, menuju Tangerang Gemilang. Tidak ada persoalan yang tidak bisa dicarikan solusinya. Karena setiap kesulitan, pasti ada jalan. Mari …..!


Bagikan artikel ini