Tahun 2014-2017, Terjadi Penurunan Kerawanan Gizi Buruk Balita

TIGARAKSA – Terjadi penurunan atas kerawanan balita gizi buruk di Kabupaten Tangerang sejak tahun 2014-2017.  Sebab itu, bila beredar kabar hal sebaliknya, berupa terjadi peningkatan kerawanan balita gizi buruk, adalah tak sesuai data yang dihimpun dari Laporan Bulan Penimbangan Balita Tahun 2014-2017.

Kusnadi SKM MKM, Kepala Seksi Gizi pada Bidang Kesehatan Masyarakat di Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, Rabu (8/11/2017), mengunkapkan pihaknya sangat menyayangkan adanya informasi keliru tersebut. “Karena data yang beredar tidak sesuai dengan data yang ada, serta sumbernya pun tak nyata.”

Dikatakan penangan masalah gizi balita telah dilakukan pihaknya secar terus-menerus dengan bekerjasama intansi terkait dan kader PKK di seluruh wilayah. Di antaranya dengan memprogram pemberian makanan tambahan balita, penyuluhan gizi balita, sampai aktif berkoordinasi bila ada masalah gizi balita yang perlu ditangani.

“Dalam setiap penyuluhan pun kami selalu menjelaskan beberapa hal kesehatan, salah-satunya mengenai gizi buruk yang disebabkan kurangnya asupan gizi dan protein dalam jangka waktu lama kepada balita,” kata Kusnadi SKM MKM.

Misalnya bila umur balita yang ditangani tidak sesuai dengan berat badannya selama 3 bulan berturut turut, maka segera dilakukan penanganannya. Alasannya gizi buruk balita bisa berdampak langsung dan tidak langsung kepada kualitas hidup balita itu sampai dewasa.

Penyebab gizi buruk, papar Kusnadi SKM MKM, bisa terjadi secara langsung yaitu jika asupan gizinya terganggu karena kelainan bawaan dan kurangnya asupan enerji.

Gejala klinisnya, balita akan terlihat sangat kurus, bentuk wajah seperti orangtua, cengeng, rambut tipis, kusam dan kulit sangat keriput.

Gizi buruk karena asupan gizinya kurang disebabkan antara lain perekonomian lemah orangtuanya, kurangnya pengetahuan orangtua balita atas pola makan bergizi, serta lingkungan rumah kotor dan kumuh.

Sedang gizi buruk pada balita secara tidak langsung langsung disebabkan balita kekurangan protein. Balita kategori ini secara klinis akan terlihat berwajah kekurangan cairan, perut membesar, pada tangan dan kaki ada penimbunan cairan. 

Yang pasti bila ditemukan balita gizi buruk yang disebabkan faktor langsung dan tidak langsung, harus segera ditangani. Intinya, jika tanda-tanda balita gizi buruk terjadi, maka sebaik para orangtua lebih dapat mewaspadainya dan mau memeriksakan kesehatan balitanya ke posyandu dan segera pula memberikan asupan gizi optimal, ungkap Kusnadi SKM MKM.

Bila kondisi ini dibiarkan, maka pertumbuhan badan dan mental anak akan lambat serta mudah terkena penyakit ISPA dan diare yan bisa saja bermuara pada kematian.

Terkait itu, masyarakat pun bila memukan gejala kelainan ada anak serupa itu, segerakan membawanya ke pusat pelayanan kesehatan terdekat, semisal puskesmas, klinik atau rumah sakit, untuk segera ditangani.


Bagikan artikel ini