Lanjutkan Keberhasilan dan Cari Solusi Program Belum Berhasil

TIGARAKSA – Berkomitmen untuk melanjutkan dan meningkatkan program-program yang sudah berhasil dan berupaya mencari solusi untuk program-program yang belum berhasil menuju visi Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Tangerang yang Sehat Secara Mandiri dan Berkeadilan.

Itulah komitmen dr Desiriana Dinardianti MARS, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, dalam memimpin jajaran dinas ini yang belum lama ini dijabatnya yang terrangkum dalam visi-misi dirinya dalam memimpin Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang.

“Tentunya sesuai yang tertuang dalam RPJMD dan Renstra Dinkes. Yang sudah berhasil akan dipertahankan dan kalau mungkin ditingkatkan, serta yang belum akan dicarikan solusinya,” papar dr Desiriana, Selasa (2/5/2017).

Sejumlah program yang berhasil di antaranya program Penyelamatan Ibu Melahirkan dan Bayi Baru Lahir yang mendapatkan penghargaan Top 35 Sinovik (Sistem Informasi Inovasi Pelayanan Publik) dari Men-PANRB, yang akan terus ditingkatkan dengan memberikan pelatihan kepada bidan praktik mandiri dan menjalin kerjasama dengan rumah sakit yang belum terintegrasi dengan jejaring rumah sakit.

Lalu, program Kabupaten Tangerang Sehat (KTS) yang hingga tahun 2016 telah mampu meraih predikat Swasti Saba Wistara untuk 5 tatanan di tingkat Provinsi Banten. “Akan terus ditingkatkan sehingga meraih Swasti Saba Wistara untuk 7 tatanan di tingkat provinsi dan nasional,” tambah wanita yang menyelesaikan studi S2 Magister Kajian Administrasi Rumah Sakit di Universitas Indonesia tahun 2002.

Kemudian dilakukan juga penguatan pelayanan kesehatan primer yaitu menambah puskesmas dengan tempat perawatan, menambah puskesmas mampu PONED, serta menambah puskesmas mampu melaksanakan pengelolaan keuangan atau BLUD.

“Ada lagi program pembangunan Rumah Sakit Pantura yang hampir rampung akan disiapkan untuk segera operasional,” ungkap ibu dengan dua anak yang pernah mengikuti Workshop Evaluasi Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit dan Indikator Mutu Sesuai Standar Akreditasi Nasional RS tahun 2013.

 

JAWAB TANTANGAN

dr Desiriana juga mengakui ada sejumlah tantangan yang dihadapi untuk mensukseskan program kerjanya yang harus dipenuhinya. Semisal keterbatasan SDM seperti dokter umum, apoteker, dokter gigi, perawat, apoteker, ahli gizi, tenaga promkes, tenaga kesehatan lingkungan, keterbatasan sarana prasarana ICU/NICU/PICU.

Selanjutnya masih tingginya angka kematian ibu, peningkatan penyakit tidak menular semisal hipertensi, diabetes, kanker dan lain-lain. “Serta perilaku masyarakat yang belum berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS),” ujar dokter yang pernah menjabat Direktur RSU Kabupaten Tangerang tahun 2013-2017.

Untuk itu langkah strategis yang akan dilakukan yaitu dengan mensinergikan program dan mengintegrasikan pelayanan kesehatan dengan pendekatan keluarga dan gerakan masyarakat hidup sehat.

Dijelaskan pendekatan keluarga adalah salah satu cara puskesmas untuk meningkatkan jangkauan sasaran dan mendekatkan atau meningkatkan akses pelayanan kesehatan dengan mendatangi keluarga serta mengintegrasikan UKP dan UKM secara berkesinambungan.

Lalu, Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) adalah suatu tindakan sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama oleh sejumlah komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup. “Pada 2017 ini difokuskan pada 3 hal yaitu melakukan aktivitas fisik, konsumsi sayur dan buah, serta memeriksa kesehatan secara berkala,” jelas dr Desi.

Ditambahkan Germas juga sudah dimulai di lingkungan Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang. Sejak awal bulan April, Dinas Kesehatan mulai menerapkan kegiatan fisik berupa senam peregangan selama 3-5 menit, setiap pk 10.00 pagi dan pk 15.00 sore.

Dimana senam peregangan ini diiringi dengan musik yang gembira, tujuannya untuk kebugaran fisik dan jiwa sehingga terhindar dari penyakit akibat kerja, juga menjadi lebih semangat dalam bekerja.

“Selain itu untuk mendeteksi adanya penyakit darah tinggi (hipertensi), kita menyiapkan tensimeter yang diletakkan dekat alat finger print, sehingga setiap pagi ataupun sore pada saat absensi pegawai dapat mengukur tekanan darahnya,” pungkasnya.

 

5/5/17/ef


Bagikan artikel ini