Puskesmas Legok Gencarkan Sosialisasi 5 Pilar PPH

LEGOK – Petugas Kesehatan Lingkungan (Kesling) Puskesmas Legok kini terus memfokuskan diri menangani masalah Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dengan pendekatan merubah perilaku higienis dan sanitasi di kalangan masyarakat.

Eem Maghfiroh SKM, Pemegang Program Kesehatan Lingkungan Puskesmas Legok, Jumat (2/3/2018), mengutarakan puskesmasnya menerapkan program perubahan ini dengan pemberdayaan masyarakat bermetode pemicuan 5 pilar perubahan perilaku higienis (PPH).

Kelima pilar PPH itu, yaitu: (1) Stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS); (2) Cuci Tangan Pakai Sabun; (3) Pengelolaan Air Minum di Rumah Tangga; (4) Pengelolaan Sampah Rumah Tangga; (5) Pengelolaan Limbah Cair Rumah Tangga.

Ditambahkan Eem Maghfiroh SKM, untuk memberi kemudahan mengatasi STBM di kalangan masyarakat, maka pihak puskesmas terprogram memberi penyuluhannya kepada masyarakat, baik yang dipusatkan di puskesmas, balaidesa, kantor kecamatan, maupun di lingkungan masyarakat.

Bahkan atas kesepakatan puskesmas bersama kepala desa dan pengurus RT-RW, dibentuklan Kelompok Wirausaha Sanitasi (KWS) di tiap-tiap desa di lima desa binaan puskesmas, yaitu Desa Babakan, Desa Serdang Wetan, Desa Palasari, Desa Rancagong dan Desa Legok. 

“Terbentuknya KWS di tiap-tiap desa terbukti dapat membantu mengatasi permasalahan STBM di masyarakat,” papar Eem Maghfiroh SKM.

Salah-satu keberhasilan yang dicapai adalah terbangunnya jamban sehat keluarga di Desa Babakan. Di desa ini dari 3.020 rumah yang ada di desa itu, kini tersisa 36 rumah saja yang belum memiliki jamban sehat keluarga.

Direncanakan pada tahun ini 36 rumah yang belum memiliki jamban akan diselesaikan. Sehingga di wilayah Desa Babakan seluruh rumahnya sudah memiliki jamban yang memberi arti masyarakat telah menerapkan program Stop BABS.

Selanjutnya di tahun 2019, kegiatan STBM akan difokuskan ke wilayah Desa Serdang Wetan. Di desa ini tercatat ada 3.004 rumah dan tersisa 65 rumah yang belum memiliki jamban.

Sedangkan untuk 3 desa lainnya, tercatat masih banyak rumah tangga warga yang belum memiliki jamban. Melalui KWS di 3 desa itu digencarkan sosialisasi dan pembinaan masyarakat tentang STBM yang berarti penting bagi kesehatan masyarakat dan lingkungannya.

“Dalam kegiatan ini para petugas KWS mendapat pendampingan petugas kesehatan, kader kesehatan, pihak desa, dan kecamatan,” ungkap Eem Maghfiroh SKM.

Selain itu, diprogram pula tata-cara perbantuan pembuatan jamban sehat keluarga masyarakat dengan mengajak mereka membangunnya dengan mendapat dana bantuan bergulir Rp 2 juta. Masyarakat yang mendapat bantuan dana membangun jamban, diwajibkan mencicil pelunasan dana bantuannya dalam 10 bulan dengan per bulan Rp 200 ribu.

Sebagai evaluasi program ini, pihak puskesmas di setiap awal bulan menggelar pertemuan dengan menetapkan tempat pertemuan dilakukan secara bergiliran ke lokasi-lokasi KWS desa binaan.

 

Sumber : dinkes.tangerangkab.go.id


Bagikan artikel ini